Kenapa second wave COVID-19 melanda Eropa

Mus • Saturday, 31 Oct 2020 - 12:35 WIB

Oleh : Prof Tjandra Yoga Aditama
Guru Besar Paru FKUI, Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Hari-hari di akhir Oktober 2020 ini kita lihat bahwa Eropa mengalami second wave serangan COVID-19, bahkan sebelum puncak musim dingin yang tadinya diperkirakan akan memicu peningkatan kasus. Banyak pihak mencoba menganalisa mengapa negara-negara Eropa yang relatif sudah maju dan telah menanggulangi first wave COVID-19, tapi sekarang toh tidak dapat bertahan tetap aman. 

Memang belum ada jawaban yang jelas, tetapi ada berbagai kemungkinan yang perlu diantisipasi.

Mula-mula ada anggapan bahwa kenaikan kasus terjadi karena jumlah tes yang dilakukan memang meningkat. Di Belgia jumlah tes harian naik dari dua per seribu penduduk pada September, menjadi hampir enam per seribu di akhir Oktober. Sementara di Republik Czech naik dari satu per seribu menjadi sekitar 3,5. 

Tapi hal ini segera terbantah karena secara jelas angka kepositifan (positivity rate) memang meningkat, sebagaimana disampaikan pakar di Majalah Time akhir Oktober. Di Belgia angkanya naik dari  2% di pertengahan September menjadi lebih dari 18% pada akhir Oktober. Sementara itu, di Republik Czech angka kepositifan juga naik dari 4% menjadi hampir 30% pada periode waktu yang sama.

Faktor lain yang diduga berperan adalah perbandingan kepadatan penduduk antara satu negara Eropa dengan yang lainnya. Juga diduga ada peran mulai dibukanya sekolah dan Universitas, walaupun data pendukungnya belumlah lengkap benar. Hal lain yang juga banyak dibahas adalah tidak cepat diberlakukannya restriksi/pembatasan sosial tempat umum dan perluasan pemakaian masker pada saat kasus mulai meningkat di akhir musim panas dan atau awal musim gugur yang lalu. 

Atau di sisi lain, mungkin terlalu cepat dilakukan pelonggaran aturan di tempat umum ketika kasus mulai menurun beberapa bulan yg lalu. Para ahli banyak yang berpendapat bahwa memang harus dilakukan tes dan tracing (penelusuran kontak) yang memadai sebelum melakukan pelonggaran restriksi. 

Di sisi lain harus juga diakui bahwa ada juga kecederungan masyarakat yang merasa “lelah” dengan pembatasan aktifitas berkepanjangan, bahkan timbul istilah “restriction fatigue” sebagaimana disampaikan di “The Conversation”, yang mungkin mempengaruhi kepatuhan disiplin pada protokol kesehatan.

Kita juga melihat perbedaan kejadian antar negara Eropa. Analis dari JPMorgan berpendapat bahwa perbedaan dampak di Jerman dan Itali di satu sisi dengan Perancis, Spanyol, Belanda dan Inggris di sisi lain, bukan karena mobilitas tapi lebih karena perbedaan kebijakan ketatnya penggunaan masker serta efektifitas tes dan trace. 

JPMorgan juga berpendapat mungkin adanya “lag phase”, artinya  ada faktor keterlambatan dan sebagian negara yang belum terdampak second wave juga akan pada waktunya mengalaminya pula, kalau tidak mengantisipasi dengan baik. Untuk negara-negara yang masih berkutat dengan first wave maka kejadian di Eropa ini patut jadi bahan pelajaran untuk di analisa, dan diterapkan antisipasinya sesuai keadaan yang ada.