Petikan Khutbah Jumat, 13/2/1442 H dari Mimbar Masjidil Haram  

Mus • Saturday, 31 Oct 2020 - 08:12 WIB

Oleh: Ma'alisy Syaikh Dr. Abdul Rahman bin Abdul Aziz as-Sudais

Dalam kesengsaraan dan malapetaka kehidupan, kesulitan dan kesukaran dunia ini, nampak dengan terang dan jelas dengan nyata, kedudukan syariat kita yang berkilau semata-mata bertujuan dalam taklif dan maqasidnya yang mempesona, untuk memperbaiki budi pekerti dan tingkah laku, menyucikan jiwa dan rohani, agar dengannya tercapai inti sari perasaan yang lembut, kesucian iman, dan puncak kebaikan yang beragam, yang dapat merealisasikan makna yang  paling agung dan bentuk yang paling sempurna. 

Hal ini semuanya, baik perkataan, maupun perbuatan, telah terpatri pada petunjuk dan pribadi penutup para nabi, pemimpin orang-orang suci, Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam

Sejak lebih dari empat belas abad dari diutusnya pemimpin para Rasul 'alaihimush shalatu wassalam, dan pribadinya yang elok lagi berseri-seri, mengharumkan dunia dengan hakikat kemegahan dan keindahan, kekaguman dan kehebatan, hikmah yang diekpresikan melaui ucapan dan perbuatan.

Keistimewaan yang Allah berikan kepada NabiNya dari pribadi yang agung, keutamaan, akhlak dan pilihan yang teliti, tidak hanya dituangkan melalui pena, tinta dan kertas. Tapi tetap disuarakan dan digerakkan melalui menara serta mengguncang tiang-tiang mimbar. Cukuplah baginya firman Rabb kita yang Maha Agung

ﱡﭐ ﱅ ﱆ ﱇ ﱈ ﱠ الشرح: ٤

"Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu ) bagimu." [QS asy-Sarh: 4] 

Pribadi agung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam semuanya mengandung kebaikan, baik yang kecil, maupun yang besar, keseluruhannya petunjuk dan semuanya keadilan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki bentuk fisik dan karakter yang begitu indah. 

Adapun bentuk fisik beliau adalah kulitnya cerah, sosok lelaki yang tampan, wajahnya bersinar, tampan,  hitam bola matanya hitam, bulu matanya lebat dan lentik, suaranya berwibawa, lehernya bersih bercahaya, rambutnya hitam pekat,  jika diam berwibawa, jika berbicara tuturkatanya indah, manusia paling indah dipandang dari jauh, dan paling bagus dipandang dari dekat, manis bicaranya dan jelas tidak terlalu singkat serta tidak bertele-tele bahkan seperti untaian mutiara. 

Postur tubuhnya sedang tingginya, tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi sehingga diremehkan orang lain, jenggotnya lebat, kedua pundaknya kekar, telapak tangan dan telapak kakinya lebar, perawakannya sedang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, dan rambutnya bergelombang. Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar dari celah-celah gigi serinya.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Barra' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau ditanya: "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wajahnya seperti pedang?' Beliau menjawab: 'Tidak, tapi seperti bulan'. Lalu beliau berkata, 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang, sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya." [HR Bukhari]

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak tinggi dan tidak pula pendek, telapak tangan dan kakinya terasa tebal, kepala beliau besar, demikian pula tulang sendinya. Jika beliau berjalan, jalannya pantas seakan-akan sedang turun ke tempat yang rendah. Aku tidak pernah melihat orang semisal beliau, baik sebelumnya, maupun sesudahnya."

Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada malam bulan purnama. Ketika itu beliau memakai pakaian merah. Aku berganti-ganti memandang antara beliau dengan bulan, ternyata beliau lebih indah daripada bulan."

Adapun sesuatu yang berkaitan dengan perkataan dan ucapannya, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah banyak diam tidak berbicara yang tidak perlu. Beliau memulai dan mengakhiri perkataan dengan menyebut Nama Allah SWT, berbicara dengan singkat dan padat serta perkataanya singkat dan padat. 

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin radhiyallahu 'anha, beliau berkata, "Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah bicara terburu-buru seperti kalian, tapi beliau berbicara dengan jelas, rinci, dan bisa dihafalkan oleh orang yang duduk di dekat beliau." [HR Tirmidzi dan belaiu berkata hadits shahih]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah banyak senyum kepada para sahabat dan kepada orang yang duduk di dekatnya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Harits radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, "Aku tidak pernah melihat seseorang paling sering senyum dari Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa sallam." 

Beliau juga berkata, "Tidaklah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tertawa kecuali hanya berupa senyuman."
Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak aku untuk duduk bersama beliau sejak aku masuk Islam. Dan tidaklah beliau melihatku kecuali beliau tersenyum kepadaku." [HR Bukhari]

Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Para sahaabat berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, Sesungguhnya engkau sering mencandai kami.' Beliau menjawab, "Sesungguhnya saya tidaklah berkata kecuali yang benar."

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling tawadu'. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya, 'Wahai Rasulullah, aku mempunyai keperluan denganmu.' Beliau bersabda, "Wahai Ummu fulan, duduklah di pojok mana saja yang kamu suka hingga aku dapat duduk bersamamu (menemuimu)." Anas berkata, 'Lalu wanita itu duduk, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi tempat duduknya. Dan beliau tetap di situ hingga wanita tersebut menyelesaikan kebutuhannya." [HR Imam Ahmad dalam kitab Musnad]

Dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, mengendarai keledai dan memenuhi undangan seorang budak. Pada perang bani Quraizhah, beliau mengendarai keledai yang memakai tali kekang dari serat kayu, juga memakai pelana dari serat kayu." [HR Tirmidzi] 

Demikian itu hanyalah sedikit dari luapan laut yang melimpah, tetesan awan yang membelah cahaya Rasul yang suci, pemilik petunjuk yang cemerlang dan budi pekerti yang bersinar, yang Allah menyebutkannya dengan semulia-mulia manaqib dan setinggi-tinggi kehormatan. Allah SWT memberinya pribadi agung yang paling baik dan keutamaan yang paling agung, yang ianya merupakan mata air yang tercurah, sumber air bersih yang memancar, di mana setiap orang yang menginginkan keselamatan di dunia dan akhirat, dapat minum dengan puas dari kelezatannya. Bahkan ia adalah rangkaian yang bercahaya, bintang yang bersinar, matahari yang terang-benderang, kilat yang berkilau dan suluh yang terang. 

Kendati banyak yang tidak sempat menyaksikan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dengan pandangan mereka, tetapi siapa yang merenungkan pribadinya yang agung, niscaya ia sebagai penghibur dan pelipur lara. Orang-orang yang menerapkan kepribadiannya, meskipun mereka tidak sempat bersahabat dengan beliau, akan tetapi detik nafas beliau selalu jadi sahabat.         

Bertakwalah kepada Allah SWT wahai hamba Allah, dan contohlah pribadi nabi kalian, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, karena itu adalah bukti mencintainya, yang ianya merupakan kemuliaan dan tujuan yang agung, daripada  sekedar menunjukkan penampilan, formalitas, perkumpulan, mengadakan perayaan, menceritakan kisah dan riwayat, pujian dan nyayian. Yang demikian itu adalah jenis dan contoh yang paling rapuh.

Sesungguhnya hubungan Umat dan kecintaannya kepada Rasulnya, kekasihnya shallallahu 'alaihi wasallam, sejarah hidupnya dan pribadinya yang harum, tidak terikat pada waktu dan kesempatan tertentu. Tetapi ia berhubungan erat dengan segala kondisi dan lini kehidupan sampai kematian. 

Dan sesungguhnya kami melancarkan dari mimbar yang mulia ini-mimbar kebaikan, kebenaran dan perdamaian- seruan yang tulus secara global kepada seluruh dunia di segala penjuru dan tempat, agar berhias dengan akhlak Nabi yang mulia  shallallahu 'alaihi wasallam, penyeru kepada perdamaian yang menyeluruh, kasih sayang yang sempurna antara pengikut syariat yang berbeda-beda tanpa menyakiti atau berselisih, atau mengeluarkan ejekan atau makian terhadap semua simbol agama, khususnya pribadi para Nabi yang suci shalawatullahi 'alaihim ajma'in. Allah berfirman,

ﱡ ﲖ ﲗ ﲘ ﲙ ﲚ ﲛﲜ ﱠ البقرة: ٢٨٥
"Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya." [QS al-Baqarah: 285]

Sesungguhnya kami atas nama satu miliar delapan ratus juta orang Islam mengecam dengan tegas dan menentang dengan keras pernyataan yang bertindak lalim terhadap kedudukan kenabian dan risalah, khususnya penutup mereka, Nabi petunjuk dan rahmat, pemimpin dan Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Tidaklah karikatur penghinaan dan aksi buruk kecuali bagian dari terorisme dan radikalisme yang mengobarkan kebencian, dan rasisme yang amat dibenci. Kebebasan berekpresi bukan dengan mengarahkan penghinaan atau olokan terhadap kesucian dan simbol agama. 

Tetapi ia adalah pelanggaran terhadap etika dan adat istiadat dan ditolak atas pelakunya. Karena kebebasan berpendapat semestinya menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang menghargai perasaan orang lain. Dan jika hal itu menyimpang dari nilai-nilai tersebut, maka sesungguhnya ia merusak pengertian moral bagi kebebasan. Penghinaan yang seperti ini sebenarnya melayani orang-orang yang berpikir radikal yang ingin menyebarkan kebencian antara komunitas kemanusiaan. 

Sementara Islam bersih dari semua ini dan yang demikian. Islam bersih dari label tuduhan terorisme, karena Islam adalah agama toleransi, kasih sayang dan merapatkan antara satu sama lain. Tidak ada padanya tindakan terorisme atau radikalisme atau sabotase atau ejekan atau olokan atau membedakan antara Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah SWT.

Seruan ini juga diarahkan agar menahan emosi, provokasi, mengambil resiko, tanpa disiplin dan pertimbangan dari tentangan berbagai aksi dan tindakan. Tindakan lalim tersebut tidak akan dapat menyentuh sedikit pun kedudukan para Nabi dan Risalah. Allah berfirman,

ﱡﭐ ﱺ ﱻ  ﱼ ﱽﱾ ﱠ المائدة: ٦٧
"Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. )" [QS al-Maidah: 67]

Hendaklah kaum muslimin bersikap tenang dan tenteram dalam menghadapi gelembung yang cepat berlalu, karena ia tidak akan memudharatkan kecuali pelakunya sendiri. Allah berfirman,

ﭐﱡﭐ ﲕ ﲖ ﲗ ﲘ ﲙ ﱠ التوبة: ٤٠
     "Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya." [QS Taubah: 40]

Allah SWT berfirman,
ﱡﭐ ﱕ ﱖ ﱗ ﱘ ﱠ الحجر: ٩٥
     "Sesungguhnya Kami memelihara engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang yang memperolok-olokkan (engkau)." [QS al-Hijr: 95]

Allah berfirman, 
ﱡﭐ  ﲺ ﲻ ﲼ  ﲽ ﲾ ﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃ ﱠ يوسف: ٢١
"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti." [QS Yusuf: 21]