Bagaimana Sesudah Pandemi Selesai Nanti?

ANP • Friday, 19 Jun 2020 - 15:08 WIB

Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Mantan Dirjen P2PL dan Mantan Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan.
Sekarang sebagai Direktur Pernyakit Menular WHO Asia Tenggara

NEW DELHI - Seperti juga teman2 yg lain, di masa sekarang kita dapat harus ikut beberapa webinar dalam satu hari, susul menyusul, dari topik ke topik, dari kota ke kota dan bahkan dari negara ke negara.

Rabu 17 Juni 2020 saya mulai jam 8.30 WIB (10.00 waktu India) dgn rapat Komite Ahli Tuberkulosis di Kementerian Kesehatan Jakarta, yang saya ditunjuk jadi Wakil Ketuanya, walaupun tentu baru akan aktif sesudah pensiun WHO September 3 bulan lagi. Acara ini dibuka Dr Achmad Yurianto, DirJen P2 Kemenkes RI yang juga Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 yang setiap hari melaporkan perkembangan keadaan secara rutin.

Jam 12.00 siangnya saya bicara pada Webinar di Jakarta yg diselenggarakan Universitas Esa Unggul tentang Wajah Kota Pasca Pandemi COVID-19, dengan pengantar dari Deputi Gubernur DKI Jakarta mewakili Pak Anis Baswedan. Tentunya saya hanya bicara aspek kesehatannya, dalam hal ini bagaimana keadaan kalau Pandemi COVID sudah selesai nanti.

Sejauh ini WHO sudah membuat fase2 Pandemi sampai selesai, tapi baru untuk Pandemi Influenza H1N1 2009, yang memang sudah selesai. Fase-fase itu adalah sbb:
- 6 fase pandemi Influenza, yang terbagi menjadi fase 1-3 yg utamanya baru pada binatang dan sedikit pada manusia, fase 4 dimana ada penularan antar manusia berkelanjutan dan fase 5 -  6  yang merupakan infeksi luas pada manusia di berbagai negara
- fase “post peak”, dengan kewaspadaan “possibility of recurrent events”, atau kalau sekarang yang di sebut2 sebagai kemungkinan “second wave”
- fase “post pandemic”, inilah yang kita harapkan terjadi, dimana pandemi sudah selesai, baik dengan tersedianya vaksin atau obat dan atau dengan cara lain.

Sekali lagi fase2 di atas ini ini adalah berdasar Pandemi Influenza H1N1 2009 yang sudah berhasil diatasi, dan semoga pandemi COVID juga akan kita atasi dalam waktunya nanti. Sudah pada tempatnya bahwa sambil prioritas kita menangani COVID sekarang ini maka perlu juga dilakukan persiapan untuk bagaimana nanti “pasca pandemi”. Kita harus siap bukan hanya tentang perubahan pola hidup (“new normal” era pandemi mungkin berbeda dengan “new normal” pasca pandemi nantinya), tetapi juga mungkin berbagai penyakit yang sekarang kurang dapat perhatian (juga kurangnya imunisasi dll) maka bukan tidak mungkin akan jadi masalah di pasca pandemi.

Pukul 14.00 siangnya saya rapat virtual mingguan Departemen Penyakit Menular WHO SEARO di New Delhi yang secara berkala membahas semua kegiatan “work from home” dalam seminggu.

Sore harinya (18.00) saya bicara di Webinar kantor pusat WHO Head Quarter Jenewa tentang “How WHO support country and partners implements Neglected Tropical Diseases Road Map 2030 to surmount the effect of COVID-19”. 

Foto yang saya lampirkan tidak istimewa sama sekali utk teman2 di Indonesia, tapi untuk saya itu adalah “sesuatu banget”, karena sesudah hampir 5 tahun di India maka baru pertama kali saya lihat ada yg jual dan saya bisa makan pisang goreng disini (kasihan deh ya ...). Pisang goreng hanya ada di India Selatan.

Kesimpulannya, kegiatan sehari dimulai virtually dari Jakarta, lalu New Delhi, lalu Jenewa dan “ditutup dengan pisang goreng”.....

(ANP)