Lockdown 3.0 di India

ANP • Friday, 8 May 2020 - 21:54 WIB

Oleh : Prof Tjandra Yoga Aditama
Mantan DirJen P2P Kemenkes dan Mantan Kepala Balitbangkes, kini Direktur WHO SEARO bidang Penanggulangan Penyakit Menular

 

New Delhi - India memasuki lockdown tahap 3 sejak 3 Mei 2020 sampai 17 Mei, artinya akan jadi 55 hari sejak awal 25 Mei, dan sangat ketat, “one of the world’s strictest lockdowns” karena praktis semua kegiatan berhenti dan tidak ada orang di jalan.

Lockdown pertama bermula 25 Maret, waktu itu jumlah kasus COVID-19 di India 606 orang. Lalu pada 14 April kasusnya jadi 10.815 orang dan dilanjutkan lockdown tahap ke dua,2.0. Nah, pada 3 Mei akhir lokcdown 2.0 jumlah kasus adalah 40.263. 

Kelihatannya memang meningkat terus, tapi keterangan yang di kutip di media (SCMP) menyebutkan “that the country’s “doubling rate” – the time it takes for the number of infections to double in size – had been increased from 3.4 days before the lockdown to almost 11 days now”. Data lain menyebutkan bahwa pada 6 April “rate of doubling every six days” sementara pada 18 April berhasil memanjang menjadi 8 hari. 

India sudah melakukan 1 juta test PCR pada 2 Mei 2020 (75.000 test sehari pada 417 laboratorium), dan hasilnya 39.980 positif. Angka positif ini dinilai baik karena lebih rendah dari negara lain yang juga sudah melakukan 1 juta test, Spanyol misalnya yang positif adalag 200.194 kasus pada saat test mereka 1 juta orang dan di Amerika Serikat 164.620 kasus.

Kemudian diputuskan dilanjutkan lagi Lockdown 3.0 sampai 17 Mei. Bedanya, kalau lockdown 1.0 dan 2.0 benar2 meminta semua 1,3 Milyar penduduk India “stay at home” seperti foto ini, maka pada lockdown 3.0 sudah ada pembagian zona seluas district, bahasa Indonesianya Kabupaten tapi penduduk district di India bisa lebih besar dari propinsi Indonesia. Ada 130 zona merah (termasuk New Delhi, Mumbai, Kalkuta dan kota besar lainnya), lalu 284 zona oranye dan 319 zona hijau. Untuk yang hijau dan oranye ada beberapa kelonggaran. Taxi terbatas boleh, bis ada yg boleh, bahkan tukang cukur ada yang buka juga. Sementara rambut saya makin panjang dan di New Delhi tidak ada tukang cukur buka karena zone merah, dan mulai ada yang beli cukuran listrik untuk mencukur sendiri, saya nggak berani, takut pitak tidak merata. 

Yang “unik” dan jadi berita utama adalah kelonggaran bahwa Liqueur Shop (penjual minuman keras) boleh buka (hal ini sampai dibicarakan di tingkat Menteri) dan besoknya ribuan orang antri beli minuman keras sampai terjadi chaos. “Unik”nya lagi, sekarang minuman keras di pajak tinggi, sampai 70 %. 

Gambar bawah hanyalah ketemu mobil Caravan yg rupanya juga ter “lockdown” di rumah tetangga saya, pas lewat waktu saya jalan2 ngabuburit sore hari kemarin.

Gambar di TV kita lihat foto Perdana Menteri India. “Unik”nya lagi, ternyata bahasa India (Hindi) utk Perdana Menteri adalah “Perdana Menteri”, sama persis (saya tidak analisa bahasa mana yg asal mula nya). (ANP)