YLKI : Masyarakat Jangan Kucing-Kucingan untuk Mudik

Mus • Wednesday, 29 Apr 2020 - 10:49 WIB

Jakarta - Ketua Pengurus Harian YLKI  Tulus Abadi meminta masyarakat tidak memaksakan untuk mudik ke daerah dengan berbagai cara yang justru membahayakan. “Jangan mencoba main kucing-kucingan mengambil jalan tikus, untuk mengakali petugas. Ini tindakan yang amat membahayakan dirinya, keluarga, masyarakat dan petugas medis di kampungnya,” kata  Tulus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (29/04).

Tulus mencontohkam, kasus di Cilacap, tujuh orang pemudik yang menggunakan jasa mobil travel, terbukti semua positif Covid-19. “Kalau memang sangat urgen harus mudik, sebaiknya masyarakat mudik secara legal, dengan mengurus surat-surat yang diperlukan,” jelasnya.

Di sisi lain, Tulus juga mendorong
pemerintah konsisten memberikan bantuan jaring pengaman sosial pada warga yang tidak mudik dan dalam kesulitan ekonomi. “Bantuan jaring pengaman sosial harus dalam jumlah cukup memadai, baik untuk logistik dan atau biaya tempat tinggal. Atau dengan cara lainnya yang menusiawi, dan memenuhi standar minimal untuk hidup di kota besar,” pintanya.

Menurut Tulus, YLKI menerima pengaduan masyarakat, dalam rangka PSBB bantuan yang diterima hanya senilai Rp 150 ribuan. Terdiri atas beras 5 kg, minyak goreng 1 liter, dua bungkus biskuit, dan mi instan. “Lah.. mana tahan kalau cuma segitu? Padahal awalnya diinfokan bantuannya sebesar Rp 600 ribuan per minggu?” pungkas Tulus.

Tulus menegaskan memotong matai rantai persebaran Covid-19 dengan melarang mudik adalah kebijakan yang relevan dengan protokol kesehatan. “Oleh karenanya harus dijalankan secara konsisten, baik oleh masyarakat dan atau pemerintah,” tuturnya. (Akm)