
Manila – Asian Development Bank (ADB) atau Bank Pembangunan Asia melipatgandakan jumlah pinjaman cepat bagi negara-negara berkembang anggotanya di Asia menjadi $ 20 miliar untuk membantu memerangi dampak ekonomi dan kesehatan akibat pandemi COVID-19.
Presiden ADB, Masatsugu Asakawa, mengatakan bahwa ADB menambahkan $ 13,5 miliar ke dalam paket awal yang semula diumumkan sebesar $ 6,5 miliar pada bulan lalu. Kebijakan ini menyusul dampak ekonomi akibat pandemi yang diperkirakan akan lebih parah daripada yang diperhitungkan sebelumnya.
Dilansir Reuters, Senin (13/4), Asakawa dalam sebuah wawancara Senin ini mengatakan, “Jelas bahwa ruang lingkup dan skala krisis ini membutuhkan upaya penanganan yang lebih besar.”
Asakawa menjelaskan, penambahan jumlah pinjaman akan memungkinkan lembaga keuangan yang berbasis di Manila, Filipina, ini untuk memberikan $ 2 miliar kepada sektor swasta demi mendukung usaha kecil dan menengah yang kekurangan likuiditas, membantu perusahaan mengatasi gangguan rantai pasokan, serta meremajakan pembiayaan perdagangan.
Untuk memastikan penyaluran bantuan lebih cepat, Asakawa menjanjikan ADB akan merampingkan prosedurnya dan membuat syarat-syarat peminjaman “jauh lebih fleksibel”.
Dalam laporan Outlook Pembangunan Asia pada 3 April lalu, ADB menyatakan pertumbuhan di negara-negara berkembang Asia, yang sudah melambat, diperkirakan akan melemah lagi bahkan lebih tajam tahun ini akibat pandemi COVID-19, sebelum bangkit kembali tahun depan.
Perkiraan dasar ADB mengingatkan bahwa pertumbuhan di Asia, yang terdiri dari 45 negara meliputi Tiongkok dan India, akan melambat menjadi 2,2% pada 2020 dari perkiraan sebelumnya 5,2%. Pertumbuhan ini akan menjadi yang terlemah selama lebih dari dua dekade terakhir.
Demi menghentikan penyebaran COVID-19, pemerintah di seluruh dunia telah menerapkan langkah-langkah pengendalian yang sangat ketat mulai dari penghentian perjalanan hingga perintah untuk tinggal di rumah, yang sangat memukul perekonomian global.
Saat ini ADB memperkirakan produk domestik bruto global akan menyusut antara 2,3% - 4,8%, lebih tinggi daripada yang diperkirakan bulan lalu.
Asakawa juga mengingatkan pentingnya menghindari krisis berkembang menjadi krisis mata uang dan finansial.
“Kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan koordinasi kebijakan terkait sangat diperlukan agar kita dapat bertahan dari tantangan yang sangat berat dan belum pernah terjadi sebelumnya ini,” katanya.
Lebih dari 1,8 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi oleh virus corona baru dan lebih dari 113.000 jiwa telah meninggal, menurut catatan Reuters. Infeksi mematikan ini telah dilaporkan di lebih dari 210 negara dan wilayah sejak kasus pertama teridentifikasi di Tiongkok pada Desember 2019. (lic)