PERANG BINTANG DI LANGIT JAKARTA
Tuesday, 30 November 1999
PERANG BINTANG DI LANGIT JAKARTA

 

Tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur akhir pekan ini, resmi dideklarasikan dan diperkenalkan ke publik. Berbagai tanggapan muncul dan berharap tiga pasangan ini akan bertarung secara sehat dalam pilkada DKI februari 2017 mendatang.

Dari pasangan Ahok-Djarot yang pertama dideklarasikan, tim Pemenangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat sadar, akan banyak kritik karena menjadi petahana. Meski demikian, pasangan ini menegaskan tidak butuh pencitraan dan optimis bisa merebut hati warga Ibu Kota dengan menyuguhkan hasil program yang telah dijalankan.

Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Taufik Basari mengatakan, selama kampanye nanti, pihaknya akan meluruskan beberapa informasi yang dianggap menyimpang yang beredar di masyarakat soal Ahok-Djarot.

"Kami akan melakukan kampnye positif dan meluruskan info-info dan fitnah-fitnah yang tidak benar, yang keliru, dari berbagai pihak yang memang tidak suka Ahok," kata Taufik Basari di diskusi Polemik SindotrijayaFM'Perang Bintang di Langit Jakarta', di Restoran Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9/2016).

Selain itu, lanjut Taufik, Ahok-Djarot akan meningkatkan program kerja yang sudah dijalankan selama ini. "Seperti sungai yang bersih, pasukan oranye, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain," katanya.

Untuk itu, kata Taufik, pasangan Ahok-Djarot menegaskan bahwa mereka tidak butuh pencitraan, melainkan meminta masyarakat untuk menilai hasil kinerja mereka berdua beberapa tahun belakangan ini. "Pak Ahok tidak butuh pencitraan. Katanyanya, silakan nilai gua, kalau enggak berhasil, enggak usah pilih gua," kata Taufk.

Sementara itu, Taufik tidak menampik jika selama ini Ahok selalu 'dihantam' isu pemimpin yang tak santun dan kasar. Menanggapi ini, Taufik, menegaskan selain santun, pemimpin juga harus bernai bertindak tegas. "Saya setuju bahwa memang kita butuh calon pemimpin yang santun dan cerdas. Kita butuh calon gubernur yang santun, santun kepada masyarakat luas, tetapi keras terhadap para maling dan pelanggar hukum. Kemudian cerdas, yang punya visi, gagasan. Jadi jangan hanya bicara saja, tapi bagaimana konsepnya. Kita butuh calon pemimpin yang punya catatan prestasi yang baik, tidak ada catatan yang buruk, apalagi kalau dia sudah pernah diberikan amanah, tapi kemudian tdigeser atau dicopot," katanya.

Sementara itu, Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) secara resmi mengusung pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dalam pesta demokrasi Pilkada serentak yang jatuh pada 5 Februari 2017 mendatang.

Pemilihan Anies sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dengan didampingi Sandiaga Uno tidak semata-mata lahir secara sesar melainkan sudah melalui proses perkenalan sejak lama. "Anies kan sudah beberapa kali ketemu Sandi, saya sering ibaratkan parpol itu besan kemudian calonnya itu pengantin ternyata Anies dan Sandi sudah pacaran lama," ucap tim pemenangan Anies-Sandi, Syarif, dalam diskusi Polemik Sindotrijaya dengan tema ‘Perang Bintang di Langit Jakarta’ Jakarta, Sabtu (24/9/2016).

Menurut Syarif, menyatukan Anies dan Sandi cukup sulit antara koalisi kekeluargaan hingga pada Selasa 20 September malam lalu menjadi titik kesepakatan antara Anies dan Sandi manakah yang akan dijadikan calon Gubernur DKI Jakarta karena mereka terlihat sejak lama "pacaran".

"Apresiasi pada teman-teman dan Prabowo yang legowo menerima bergesernya pak Mardani Ali Sera," tutur Syarif. Dengan sikap lapang dada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menerima Anies dan Sandi sebagai pasangan diharapkan calon ini memberikan keserasian dan kesimbangan. "Itu adalah kesepakatan yang luar biasa, bisa menciptakan pilkada yang menyenangkan," tambah Syarif.

Sementara pasangan ke-3 yang dideklarasikan Agus-Sylvi, melalui tim pemenangan, Didi Irawadi Syamsuddin yakin, popularitas pasangan calon ini akan terus meningkat jelang pemungutan suara Februari 2017. Waktu lima bulan ke depan akan dimanfaatkan untuk mendongkrak elektabilitas dan popularitas keduanya.

Menurut Didi, Agus memiliki latar belakang pendididikan dan jiwa kepemimpinan yang bagus. Kedua hal itu merupakan salah satu bekal meningkatkan tingkat keterkenalan publik. "Ini masih ada waktu lima bulan. Mas Agus jika bicara kepemimpinan bukan orang baru karena memimpin tentara," kata Didi dalam diskusi di Cikini, Jakarta, Sabtu (24/9).

Selain kepemimpinan, Agus disebut Didid sebagai sosok cerdas. Sejumlah prestasi diraih Agus selama berkarir di dunia militer. Salah satunya, Agus pernah menempuh pendidikan di Univeristas Harvard, Amerika Serikat dan memperoleh Indeks Prestasi Komulatif sempurna, yaitu 4.00.

"Untuk popularitas, lima bulan kami akan bekerja keras," ujarnya. Lebih lanjut, Didi juga menyinggung popolaritas bakal calon petahana Basuki Tjahaja Purnama yang makin menurun. Ia menilai, penurunan popularitas Ahok menunjukkan bahwa masyarakat DKI membutuhkan sosok pemimpin baru.

Didi menyebut, Ahok sebagai sosok yang tidak adil bagi semua kalangan masyarakat. Ahok dianggap telah memarjinalkan masyarakat minoritas untuk kepentingan pembangunan.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik, Didi menyebut, telah terjadi peningkatan angka kimiskinan di DKI selama Ahok menjabat. Data BPS yang dihimpun mencatat, angka kemiskinan di Jakarta mencapai 384.300 ribu atau setara 3.75 persen dari total penduduk DKI.

"Sudah empat tahun ini, apakah Jakarta untuk semua rakyat. Jangan hanya pembangunan yang dijadikan pencitraan, tapi masyarakatnya tidak sejahtera," ujarnya. Hingga kini, Didi mengklaim, tim pemenangan Agus-Sylviana tengah menganalisan sejumlah program yang akan ditawarkan kepada masyarakat DKI. Ia belum bisa membeberkan satu pun program kronkrit yang akan ditawarkan. Namun. Ia mengklaim, program pasangan itu akan merangkul semua kalangan.

Menanggapi tiga pasangan yang akan bertarung di pilkada DKI ini, Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari memperkirakan kontestasinya akan berlangsung sengit dan menarik. karena tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung masing-masing memiliki kekuatan bukan saja dari massa pendukung, tapi juga ada tokoh besar di belakangnya.

Lebih lanjut, Muhammad Qodari mengatakan, Pilgub DKI 2017 amat menarik diikuti karena pertarungannya bukan saja dari kekuatan pasangan calonnya, tapi juga dukungan tokoh besar di belakangnya. “Di belakang Ahok ada Mega, di belakang Agus ada SBY, di belakang Anies ada Prabowo. Nah itu lah sebabnya pilkada ini lebih menarik dari (pilkada) 2012-2016,” kata Qodari dalam diskusi bertajuk ‘Perang Bintang di Langit Jakarta’ digelar SindoTrijaya di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9/2016).

Menurutnya Pilgub DKI 2017 nuansa dan rasanya seperti pemilihan presiden. Bahkan jika Agus Harimurti Yudhoyono menang dan berhasil menjadi orang nomor satu di DKI, putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu bisa jadi calon kuat presiden RI atau Ketua Umum Partai Demokrat.

Qodari juga mengapresiasi sikap Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengusung Anies Baswedan berduet dengan Sandiaga Uno, padahal Anies yang mantan Mendikbud merupakan Juru Bicara Jokowi-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014.

Menurutnya, Anies Baswedan memiliki potensi meraup suara karena ia merupakan tokoh intelektual yang dikenal luas masyarakat.

          Sementara di mata sejarawan Betawi JJ Rizal menyebut, akan ada beragam janji yang tentunya akan dijadikan senjata untuk memenangkan hati warga ibu kota. Namun yang dikhawatirkan nantinya adalah janji hanya tinggal janji dan tak ada perubahan yang berarti di Jakarta.

Selain itu, JJ Rizal menyatakan para kandidat jangan hanya mudah menandatangani kontrak politik dengan berbagai janji manis, namun kemudian lupa setelah duduk di kursi kekuasaan. “Para kandidat dengan mudah minta dukungan kontrak politik, habis itu gampang ingkar janji, ini persoalan besar,” kata JJ Rizal dalam diskusi Warung Daun Sindo Trijaya, di Jakarta, Sabtu (24/9/2016).

Terlebih menurutnya, ibu kota butuh pemimpin yang berpikir untuk perubahan jangka panjang. Para pemangku kekuasaan harus memikirkan banyaknya pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. “Persoalannya tentu tantangan kota justru secara jangka panjang, contohnya selama umur panjang Jakarta, kelestarian lingkungan masih jadi PR besar,” tegasnya.