Langkah Kemendag Tingkatkan Perdagangan Dengan Argentina Dinilai Tepat
Tuesday, 14 May 2019
Langkah Kemendag Tingkatkan Perdagangan Dengan Argentina Dinilai Tepat

JAKARTA – Langkah Kementerian Perdagangan meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi dengan Argentina dan MERCOSUR dipandang tepat. Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal menyatakan, Argentina merupakan hub atau pintu penting di Amerika Selatan setelah Brazil. Penjajakan counter trade dengan pola barter, diyakini mendongkrak neraca perdagangan.

 

“Berdasarkan kajian yang pernah LPEM UI lakukan, pemetaan non-tradisional partner untuk wilayah Amerika Latin selain Brazil itu ada Chili, Peru, dan Argentina. Jadi saya rasa itu sudah tepat ya,” ujar Fithra kepada wartawan di Jakarta, Selasa (14/5).

 

Menurut Fithra, perang dagang yang masih terjadi membuat Indonesia harus segera mencari negara tujuan ekspor non-tradisional.

 

Usai melangsungkan kunjungan ke Eropa pada 8-11 Mei lalu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melanjutkan kunjungan kerja ke dua negara Amerika Latin, yakni Cile dan Argentina.

 

Terkait kunjungan kali ini, Enggar menyebutkan Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dengan negara-negara Amerika Selatan. Hal ini mengingat kebutuhan yang semakin mendesak untuk mendiversifikasi pasar ekspor di tengah prediksi bahwa perekonomian dunia maupun perdagangan internasional akan terus mengalami pelemahan tahun ini.

 

“Kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Argentina akan memiliki nilai geostrategis yang penting. Indonesia dapat memanfaatkan Argentina sebagai regional hub memasuki pasar sekitar lainnya di kawasan Amerika Latin. Demikian pula Argentina dapat memanfaatkan Indonesia untuk memasuki pasar ASEAN, pasar mitra FTA ASEAN, maupun pasar RCEP yang saat ini masih dirundingkan,” imbuh Enggar, Selasa (14/5).

 

Dalam kunjungan itu, Menteri Enggar bertemu dengan Menteri Luar Negeri dan Kepercayaan Argentina, Jorge Marcelo Fauire, yang berlangsung di Kantor Kementerian Luar Negeri dan Kepercayaan Argentina di Buenos Aires pada Senin (13/5) waktu setempat.

 

Dalam pertemuan yang berlangsung terbuka itu kedua Menteri sepakat membentuk tim kecil guna mengkaji dalam waktu secepatnya apa yang dapat dipertukarkan antara Indonesia dan Argentina. Tim kecil ini akan mengidentifikasi hal-hal yang menjadi tantangan dalam perdagangan dua arah antara Indonesia dan Argentina.

 

Secara paralel, tim tersebut mengkaji kelayakan bagi digulirkannya perudingan preferensi antara Indonesia dan MERCOSUR, di mana Argentina merupakan salah satu pendirinya. Menurut Enggar, perekonomian kedua negara bersifat komplementer namun sejauh ini kurang banyak digali seperti dengan negara-negara di kawasan Asia dan Eropa.

 

“Untuk itulah diadakan pembicaraan pada tingkat menteri, sekaligus menindaklanjuti kunjungan Wakil Presiden Argentina baru-baru ini ke Jakarta,” jelasnya.

 

Pemerintah, lanjutnya, tengah menjajaki pola counter trade. Enggar menilai pola ini sebagai langkah tepat guna memangkas defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Argentina. 

 

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, pada 2018 lalu total perdagangan kedua negara mencapai US$1,67 miliar. Dari total perdagangan tersebut, Indonesia membukukan defisit perdagangan hingga US$1,2 miliar. Angka defisit ini melonjak dibandingkan defisit pada 2017 yang sebesar US$891,22 juta.

 

Potensi untuk melakukan barter gaya baru ini pun ada. Sejalan dengan perlambatan ekonomi dunia, terdapat potensi over supply produk di Argentina. Hal yang sama juga dialami Indonesia, di mana beberapa komoditas mengalami penurunan ekspor.

 

“Barang yang bisa di barter dengan mereka adalah karet, CPO, automotive dan spare parts, juga spare parts pesawat CN235. Sebagai gambaran, kita menargetkan dalam 2-3 tahun ke depan kita harus bisa menyeimbangkan atau tidak lagi defisit,” katanya.

 

Rencana Enggar melakukan barter produk dengan Argentina pun turut diapresiasi. Menurut Fithra, keputusan melakukan barter dengan mengerahkan karet dan CPO adalah strategi tepat. 

 

Tak hanya terpukul oleh perang dagang, nontariff measure (NTM) untuk dua komoditas itu juga makin gencar diberlakukan negara-negara tujuan ekspor tradisional seperti Eropa dan negara maju lainnya.

 

Rencana barter pun secara tidak langsung Fithra nilai dapat menjadi alternatif pemerintah mengoptimalkan produk karet dan CPO Indonesia yang melimpah.

 

“Oleh karena itu dengan kita mengambil langkah berkunjung ke sana (Argentina) dan kalau bisa ada sebuah perjanjian yang konkret saya rasa itu merupakan first mover advantaged ya,” kata Fithra.

 

Namun, defisit neraca dagang Indonesia terhadap Argentina, dinilai INDEF bukanlah fenomena negatif. Lantaran potret perdagangan dua negara tak melulu hanya dipandang dari neraca perdagangannya. Melainkan harus dilihat efek  yang ditimbulkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan produk domestik bruto (PDB) nasional. 

 

Fithra bahkan menyebutkan, impor barang modal dari Argentina dapat mengantarkan Indonesia sebagai jaringan produksi global atau global value chain di Amerika Latin dan kemudian tersambung ke pasar Amerika. (ars)