Ayutthaya Kota Reruntuhan Candi Warisan Sejarah Dunia
Friday, 12 April 2019
Ayutthaya Kota Reruntuhan Candi Warisan Sejarah Dunia

Ayutthaya - Tidak seperti kota Bangkok atau Pattaya yang riuh rendah dengan hiburannya yang serba metropolis, Ayutthaya merupakan destinasi andalan Thailand dari sisi sejarah. Ayutthaya menyuguhkan suasana alam yang asri, sedikitnya kendaraan, serta reruntuhan candi-candi yang memukau dan sangat instagrammable diambil dari sudut pandang manapun.

 

Selain menggunakan tour bus atau van, bagi anda yang ingin 'backpakeran' perjalanan bisa dari stasiun KA Hua Lampong Bangkok menuju Ayutthaya dengan biaya BHT 20 hingga 30 atau sekitar IDR 10.000 hingga 15.000 (harga April 2019) untuk KA kelas ekonomi. Perlu diketahui,  suhu di Ayutthaya lebih panas dari Bangkok maka jangan lupa memakai tabir surya, membawa topi, payung dan memakai pakaian tipis.

 

"Gak nyangka aja suhunya bisa mencapai 37 derajat, lebih panas dari Jakarta, menariknya di sini (Ayutthaya) situs candinya terdapat di satu kota" kata Arin dari PT Kichi Arziki yang tengah menggelar gathering di Thailand (9/4).

 

Tidak afdhol kiranya jika ke Thailand termasuk Ayutthaya, tidak langsung menyewa tuktuk untuk berkeliling kota. Terdapat tuktuk, sepeda motor yang ditawarkan penduduk untuk berkeliling kota.

 

Ayutthaya adalah ibukota kerajaan Siam di masa lampau (1350 – 1767) yang sangat jaya dan terkenal indah, dengan kuil-kuil berlapis emas. Sayangnya, keindahan dan kemegahan candi membuat iri negara tetangga dan akhirnya setelah peperangan panjang, Burma menyerang dan menjarah kota cantik ini, membakar kuil untuk melelehkan emasnya, dan menjadikan Ayutthaya sebuah kota reruntuhan. Bangsa Siam kemudian mendirikan ibukota baru di Thonburi, sebelum pindah ke seberang sungai ke Bangkok pada tahun 1782 dipimpin oleh Rama I, pendiri dinasti Chakri yang berkuasa sampai sekarang.

 

Area reruntuhan favorit fotografer ini terutama terkonsentrasi di Ayutthaya Historical Park (terdaftar sebagai UNESCO World Heritage), dan yang penting antara lain: Ayutthaya Historical Study Center untuk mengenal sejarah, Wat Phra Mahathat, Wat Chaiwatthanaram, Wat Phra Si Sanphet, dan Wat Ratchaburana.

 

Menariknya seluruh reruntuhan candi-candi tersebut sangat mirip dengan candi Muara Takus di Riau dan candi Muaro Jambi di Jambi, yakni struktur material bangunan candinya berbahan batu bata merah.

 

Tempat lain yang menarik adalah istana Bang Pa In yang sangat indah, Lokasi wisata ini juga disebut ‘Bang Pa In Summer Palace’. Terdiri dari beberapa bangunan ikonik yang terpisah-pisah yang dikelilingi oleh taman yang cukup luas khusus dihuni raja-raja bangsa Siam beserta selir-selirnya.

 

Ayutthaya juga dipercaya merupakan kota kelahiran Muay Thai, dan setiap tanggal 17 Maret akan diadakan Wai Khru Muay Thai Festival di Ayutthaya Historical Park. Wai Khru adalah upacara menghormati guru yang telah mengajarkan Muay Thai.

 

Khusus kulineran beberapa resto terbaik ada di tepi sungai seperti Baan Khun Phra dan Saithong, atau Malakor di Chikun Road. Wajib dikunjungi Kung Pao (Grilled River Prawn), khas Ayutthaya. Tidak perlu khawatir seluruh restoran maupun kulineran mengedepankan cap halal yang menandakan pemerintah Thailand menyadari wisman asal negara-negara muslim merupakan pangsa pasar terbesar saat ini.

 

(Arief Sinaga dari Ayutthaya Thailand)