Disrupsi Fintech: Perbankan Bisa Bernasib Sama dengan Perusahaan Taksi
Wednesday, 27 March 2019
Disrupsi Fintech: Perbankan Bisa Bernasib Sama dengan Perusahaan Taksi

Kehadiran fintech atau financial technology kini semakin menjadi momok bagi lembaga keuangan konvensional, seperti bank, koperasi dan lainnya. President Director Commonwealth Bank, Lauren Sulistiawati mengibaratkan, kehadiran fintech serupa dengan lahirnya perusahaan ojek online ataupun taksi online beberapa waktu lalu.

 

Jika dulu, kata Lauren, perusahaan ojol maupun taksi online bisa menganggu ketentraman perusahaan taksi seperti Bluebird dan lainnya.  Maka saat ini, tidak menutup kemungkinan jika kehadiran fintech juga bisa menganggu perusahaan keuangan konvensional khususnya perbankan.

 

"Kecepatan yang dimiliki fintech dari sisi teknologi cepat atau lambat bisa merubah pola pikir ataupun kebiasaan masyarakat dalam melakukan pinjaman," tuturnya di kantor Commanwealth Bank, Jakarta Selatan (26/3/19).

 

Lauren menuturkan, meski perbankan lebih gapah soal keuangan, namun teknologi yang dimiliki fintech mungkin bisa meruntuhkan keunggulan itu.

 

Lauren mencontohkan, di negara-negara maju seperti Eropa dan China, penggunaan uang kertas ataupun koin kini sudah amat berkurang. Pola pikir masyarakat di sana berubah ke arah digital. Tren ini memungkinkan juga akan terjadi di Indonesia.

 

"Satu-satunya yang mungkin bisa mencegah disrupsi fintech adalah tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap adanya penagihan debt collector fintech, khususny fintech ilegal yang kerap menganggu," tambahnya.

 

Sebagai informasi, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mencatat, pelaporan terkait penagihan debt collector fintech yang kerap tidak beretika memang cukup masif selama kurun waktu 2018-2019. Jumlah pelaporan hingga Februari 2019, sudah mencapai 3.000 lebih. Angkanya terus bertambah dengan rata-rata 10 pengaduan setiap harinya.

 

Untuk itu, Lauren pun mengingatkan kepada para regulator, dalam hal ini OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk segera mempercepat adanya peraturan bagi fintech. Hal ini dimaksudkan agar kemajuan teknologi keuangan yang sejatinya cukup membantu masyarakat itu bisa lebih terkendali. Dan tidak lagi merugikan pihak-pihak tertentu, khususnya perbankan dan masyarakat umum.

 

"Selain itu, miterasi finansial terkait adanya fintech sekarang ini juga perlu dimasifkan agar masyarakat bisa terhindar dari fintech-fintech ilegal yang meresahkan," pungkasnya.

(FYR)