Pelaku Penembakan Masjid di Selandia Baru Pecat Pengacaranya dan Mewakili Diri Sendiri
Monday, 18 March 2019
Pelaku Penembakan Masjid di Selandia Baru Pecat Pengacaranya dan Mewakili Diri Sendiri
Brenton Tarrant saat dihadapkan ke pengadilan pada Sabtu, 16 Maret 2019. (Foto: New Zealand Herald/Reuters)

CHRISTCHURCH - Brenton Tarrant, pelaku pembantaian 50 Muslim di dua masjid di Selandia Baru, dilaporkan telah memecat pengacara yang ditunjuk pengadilan dan menyatakan akan mewakili dirinya sendiri di persidangan mendatang. Banyak pihak yang khawatir, Tarrant akan menggunakan persidangan itu untuk mempromosikan ideologi dan keyakinannya.

 

Pria berusia 28 tahun yang dituntut atas tuduhan pembunuhan dalam aksi terornya di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru itu telah memecat pengacaranya, Richard Peters pada Sabtu. Kepada New Zealand Herald, Peters mengatakan bahwa Tarrant memecatnya beberapa saat setelah hadir di Pengadilan Distrik Christchurch pada Sabtu pagi.

 

Peters mengatakan bahwa warga Australia itu "kelihatannya sangat sadar" ketika dia menolak bantuan hukumnya.

 

"Dia tampaknya bagi saya tidak menghadapi tantangan atau gangguan mental, selain memiliki pandangan yang cukup ekstrem," kata pengacara itu sebagaimana dilansirRT, Senin (18/3/2019).

 

Terlepas dari sikap tenang penyerang yang ditunjukkan selama beberapa menit di hadapan hakim, sedikit yang diketahui tentang keadaan mentalnya saat ini karena Tarrant tidak mengeluarkan pernyataan atau berusaha untuk berbicara di pengadilan.

 

Tarrant tidak meminta jaminan, juga tidak mengajukan banding untuk menutupi namanya.

 

Mantan pengacara Tarrant mengatakan bahwa tersangka penyerang tampaknya tidak menunjukkan penyesalan - meskipun mereka tidak secara khusus membahas topik itu.

 

Menurut Peters, pemecatannya mungkin merupakan indikasi awal bahwa Tarrant ingin memanfaatkan persidangannya sebagai kesempatan untuk mempromosikan pandangan ekstremisnya. Dalam hal ini, tergantung pada hakim ketua untuk menghentikan aksi publikasi semacam itu.

 

"Aku curiga dia tidak akan menghindar dari publisitas, dan itu mungkin akan menjadi cara dia menjalani persidangan. Tugas hakim persidangan adalah untuk menghadapinya," kata Peters.

 

Pengacara yakin pengadilan tidak akan "bersimpati" kepada Tarrant jika ia memilih untuk menggunakan pengadilan sebagai alat dalam permainan propagandanya.

 

Peters menggarisbawahi bahwa meski pengadilan tidak dapat menghalangi Tarrant untuk mewakili dirinya sendiri, mereka kemungkinan akan menunjuk seorang pengacara yang akan memberi saran pada tersangka penyerang mengenai aturan-aturan prosedur peradilan.

 

Karena kekhawatiran yang meningkat bahwa pria bersenjata diduga dapat menggunakan sistem peradilan Selandia Baru untuk kepentingannya, pihak berwenang Selandia Baru meminta media dan masyarakat umum untuk memberikan Tarrant paparan sesedikit mungkin.

 

Tarrant dijadwalkan akan menjalani persidangan berikutnya pada 5 April.(dka)