Dangdut Cowboys Amerika Tampil di UMB
Friday, 15 March 2019
Dangdut Cowboys Amerika Tampil di UMB

Jakarta – Musik dangdut merupakan music asli Indonesia. Kini, dangdut digandrungi oleh dunia. Bahkan Amerika Serikat. Mereka menyatukan music dangdut dengan busana Cowboy. Yang menarik, para pemain music mulai dari gendang, suling, gitar, piano dan vocal dibawakan oleh para ilmuwan. Mereka bergelar professor dan sebagai dosen di universitas ternama di Amerika Serikat. Sebagai vokalis, Megan, yang juga seorang dosen di Pittsburg University. Ia tampil bersama Profesor Andrew Noah, profesornya dangdut asal Amerika. 

Dikemas dalam acara Dangdut Cowboys Performance dihadapan ratusan mahasiswa, di Auditorium Universitas Mercu Buana, pedangdut Amerika ini menyanyikan lagu dangdut berjudul Bujangan, Kegagalan Cinta, dan Terajana,

Beraliran musik dangdut, nyanyian mereka ternyata mampu menggoyang tubuh para mahasiswa. Bahkan saat mereka bernyanyi, penontonnya pun coba untuk nyawer dengan uang pecahan Rp 50 sampai 100 ribu. 

Namun, uang yang ditawarkan sembari menari di bawah alunan musik dangdut itu, tidak diambil oleh sang vokalis, Megan, yang juga seorang dosen di Pittsburg University. Ia tampil bersama Profesor Andrew Noah, profesornya dangdut asal Amerika. 

Suara bagus Megan dan Prof Andrew menyihir ratusan mahasiswa dan dosen Mercu Buana, berjoget dan ikut bernyanyi. Sederet lagu legendaris milik Rhoma Irama seperti Bujangan, Kegagalan Cinta, dan Terajana, dinyanyikan oleh band asal negeri Paman Sam itu. 

Meski asli keturunan Amerika, lidah Prof Andrew dan Megan, sangat fasih bernyanyi. Bahkan, cengkok khas dangdut pun terdengar jelas dari mulut keduanya. 

"Terajana, terajana, ini lagunya, lagu India. Merdu suara, hai penyanyinya," atau pada bagian lagu Kegagalan Cinta "Ho.. Ho.. Ya nasib ya nasib, mengapa begini. Baru pertama bercinta, sudah menderita," Prof Andrew menyanyikan. 

Menurutnya, orang-orang Amerika tidak akan mengerti lirik yang dinyanyikan. Namun, mereka sangat menikmati dan dibuat terkesima dengan alunan musik dangdut yang kaya akan instrumen musik.

"Soal arti, mereka tidak paham. Karena perlu mempelajari budaya dan asal usulnya dulu, baru paham. Tapi mereka menikmati musik dangdut, di sana banyak penggemarnya," tutur pria yang melakukan penelitian dangdut pada 2007 lalu. 

Menurutnya, awal mula band tersebut terbentuk, personelnya merupakan tenaga pengajar di Pittsburg University. Mayoritas adalah lulusan S3 yang juga mempelajari soal dangdut, musik gamelan, wayang dan budaya Sunda di Indonesia. 

Menurutnya, dangdut punya nilai musik internasional. "Dalam satu sajian musik dangdut, bisa gabungan dari genre rock, jazz sampai country. Jadi bisa pertukaran budaya antara Amerika dengan Indonesia," ujar Andrew. (ANP)