Respon Perubahan Harus Dilakukan Hadapi Revolusi Industri
Friday, 15 March 2019
Respon Perubahan Harus Dilakukan Hadapi Revolusi Industri

JAKARTA – Kini, Indonesia berada di ambang pintu revolusi yang akan mengubah cara hidup, cara bekerja dalam lingkup domestik maupun dunia. Ada satu hal yang paling menonjol dalam gerak itu, yaitu harus merespon perubahan.

Wakil Rektor Universitas Mercu Buana (UMB), Dr. Hadri Mulya mengatakan, ekonomi global saat ini sedang berada pada puncak perubahan besar yang sebanding dengan munculnya revolusi industri pertama, kedua dan ketiga.

"Ekonomi global saat ini sedang berada pada puncak perubahan besar yang sebanding dengan munculnga revolusi industri pertama, kedua dan ketiga. Dan sekarang kita segera masuk ke satu tahapan revolusi industri yang dinamakan Revolusi Industri 4.0," kata Hadri Mulya, dalam rangka Open House Pascasarjana Program Studi Magister (S2) dan Program Doktor (S3) di Gedung Tower, UMB, Jakarta, Kamis (14/3/2019)

Hadri menjelaskan, di dalam buku Klaus Schwab yang berjudul The Fourth Industrial Revolution (2016) mengemukakan tentang Revolusi Industri Generasi Keempat (Revolusi Industri 4.0) yang ditandai dengan kelahiran artificial intelegent pada ragam bentukan produk yang dapat bekerja layaknya fungsi otak manusia yang dioptimalisasikan.

“Otomasi dan pengambilalihan bidang kerja yang dimekanisasi melalui perangkat digital menjadi keniscayaan dan mengarahkan pada praktik-praktik bidang kerja yang berpusat pada eliminasi 'berkedok' efisiensi tenaga kerja manusia sebagai muaranya,” ujarnya.

Ragam 'kecerdasan buatan' tersebut di antaranya adalah super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, dan lain sebagainya. "Konsep Revolusi Industri 4.0 ini menemukan pola dan mekanisme kerja baru ketika disruptif teknologi hadir begitu cepat yang secara bertahap mendominasi sendi kehidupan dan keseharian manusia," terangnya di depan 425 peserta.

Salah satu program prioritas dalam peta jalan (roadmap) 'Making Indonesia 4.0' adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia, yang dapat mengelaborasi ilmu pengetahuan, keterampilan hidup, dan penguasaan terhadap teknologi informasi.

Ia juga menyebutkan, jika di era digital yang pesat ini memaksa institusi untuk mengembangkan relasi. Tidak bisa melakukan dengan sendiri-sendiri. Era digital mengajak keterlibatan berbagai elemen untuk meningkatkan produktifitas. “Era digital itu berhasil memotong waktu, memperkecil biaya dan meningkatkan produktifitas. Semua itu harus dilakukan secara bersama-sama,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Pemasaran UMB, Dr. Irmulan Sati  mengungkapkan proses digitalisasi pada industri saat ini tidak terelakan. Semua unsur harus siap dalam menyikapi dan menyusun strategi pendukung. Termasuk kemampuan untuk merancang feedback yang produktif untuk kemajuan organisasi.

"Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) diera digital kini menjadi satu kebutuhan dan UMB siap mendukung kebutuhan SDM yang melek digital khususnya," pungkasnya. (ANP)