Impor Jagung 30.000 Ton, Dirut Bulog: Itu Bukan Permintaan Perusahaan
Thursday, 10 January 2019
Impor Jagung 30.000 Ton, Dirut Bulog: Itu Bukan Permintaan Perusahaan

JAKARTA - Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso memastikan impor jagung sebanyak 30.000 ton pada awal 2019 itu bukan permintaan perusahaannya.

 

"Bukan Bulog yang minta, tapi peternak. Di mana kebutuhan peternak ini data dari seluruh Indonesia dan itu kebutuhan sekian. Kita impor sesuai dengan kebutuhan dan terus kita distribusikan dan kita enggak akan stok sesuai dengan kebutuan," ujarnya di Jakarta, Kamis (10/1/2019).

 

Dia menjelaskan, bahwa impor jagung untuk pakan ternak sebanyak 100.000 ton pada akhir tahun lalu, sudah habis. Pasalnya Bulog mengimpor berdasarkan kebutuhan yang sesuai data dari Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Barat (Jabar), Sulawesi Selatan, Makassar.

 

"Sehingga waktu itu perhitungan kita dengan data kebutuhan itu, kita butuh berapa? Ternyata kebutuhan tersebut riil 100.000 ton. Oleh karena itu kita impor 100.000 ton begitu datang langsung didistribusikan jadi enggak nyampe di gudang kita," tuturnya.

 

Dia menuturkan, bahwa impor jagung itu nantinya dijual sebesar Rp4.500 per kilogram (kg), dari Bulog. "Jadi kalau ada yang jual Rp8.000 per kg itu, salah, kita jualnya Rp4.500," ungkapnya.

 

Dia menambahkan, bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan bila impor akan dilakukan kembali. Apabila hal tersebut dibutuhkan oleh peternak dan dapat mengajukan penugasan impor kepada pemerintah. "Maka itu, impor itu, semata-mata dilakukan sesuai kebutuhan," pungkasnya.

 

Seperti diketahui, setelah memutuskan untuk melakukan impor pakan ternak sebanyak 100.000 ton pada akhir tahun lalu, kini pemerintah kembali membuka impor jagung sebanyak 30.000 ton pada awal 2019.

 

Impor ditugaskan kepada Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), yang rencananya jagung tersebut masuk ke Indonesia paling lambat di akhir Maret 2019.

 

(fbn)

Source : Okezone.com