Jelang Tahun Baru 2019, Harga Minyak Melambung Tinggi
Monday, 31 December 2018
Jelang Tahun Baru 2019, Harga Minyak Melambung Tinggi

SINGAPURA - Harga minyak naik pada perdagangan terakhir tahun ini karena mendapat sentimen dari laju pasar saham yang positif. Namun, secara tahunan, harga minyak masih di jalur koreksi di tengah kekhawatiran pasokan yang berlebih.

 

Mengutip Reuters, Senin (31/12/2018), kenaikan harga minyak juga disokong dari membaiknya hubungan Amerika Serikat (AS)-China. Kedua negara sepakat untuk menghentikan sementara perang dagang karena dampaknya bisa memukul perekonomian global.

 

Minyak mentah Brent, patokan untuk harga internasional, naik 17 sen, atau 0,3 persen, menjadi 53,38 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Brent telah merosot sekitar 20 persen pada 2018 setelah tumbuh dua tahun berturut-turut.

 

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berada di 45,52 dolar AS per barel, naik 19 sen, atau 0,4 persen, dari penutupan terakhirnya. WTI turun hampir 25 persen tahun ini.

 

Harga minyak mentah selama sepekan mengalami gejolak karena pasar saham bergerak volatil. "Investor mencari penawaran di pasar yang tidak likuid (hari ini). Jika Trump mengatasi masalah perdagangan dengan China, sentimen positif ke ekonomi akan meningkat," kata Jonathan Barratt, kepala investasi di Probis Securities di Sydney.

 

Presiden AS Donald Trump mengatakan, telah mencapai hubungan yang cukup baik dengan Presiden China Xi Jinping sehingga persoalan perang dagang dalam waktu dekat kemungkinan bisa diselesaikan.

 

Sementara itu, impor minyak mentah Iran oleh pembeli utama di Asia mencapai titik terendah dalam lebih dari lima tahun pada November. Hal ini seiring sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran yang mulai berlaku bulan lalu.

 

Impor Asia dari Iran akan meningkat lagi pada bulan Desember setelah AS memberikan keringanan sementara untuk beberapa negara. Namun, tidak diketahui berapa banyak Iran akan mengekspor minyak setelah keringanan berakhir sekitar awal Mei.

 

"Investor akan memerlukan indikasi substantif dari fundamental ekonomi global dan persediaan minyak untuk bergerak secara positif pada harga minyak pada tahun 2018," kata Benjamin Lu Jiaxuan, analis komoditas di perusahaan pialang Singapura Phillip Futures.

 

Peningkatan harga minyak kemungkinan akan bertambah dari Januari, ketika pemotongan pasokan yang dipimpin organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) dimulai, kata para analis.

 

Awal bulan ini, OPEC dan sekutu-sekutunya termasuk Rusia, sepakat untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) mulai Januari dalam upaya untuk mengetatkan pasokan global dan mengerek harga.

 

Editor : Ranto Rajagukguk

Source : iNews