Travel Risk Map 2019: Inilah Negara Yang Tidak Aman Untuk Dikunjungi Tahun 2019
Sunday, 09 December 2018
Travel Risk Map 2019: Inilah Negara Yang Tidak Aman Untuk Dikunjungi Tahun 2019

Sebentar lagi tahun 2019 akan datang dan masyarakat di seluruh muka bumi ini tidak sabar untuk menyambutnya. Di tahun yang baru nanti apakah anda memiliki rencana liburan ke luar negeri dengan orang-orang tersayang? Jika ada, anda harus melakukan riset terlebih dahulu untuk mengetahui negara mana saja yang aman dan tidak aman untuk dikunjungi dari segi keamanan, kesehatan, dan keselamatan perjalanan.

Setiap negara memliki kondisi yang berbeda-beda, ada yang baik untuk dikunjungi maupun tidak baik untuk dikunjungi. International SOS and Control Risks merilis Travel Risk Map 2019. Terdapat sebuah peta yang menunjukan negara mana saja yang memiliki tingkat risiko tertinggi hingga terendah untuk dikunjungi dari 3 aspek tersebut.

Dalam Travel Risk Map 2019 menunjukan Negara Afghanistan, Korea Utara, Venezuela, Iraq, hingga Libya termasuk tidak aman dari segi kesehatan. Selanjutnya, negara seperti Libya, Sudan Selatan, Somalia, Yaman, Suriah, Afganistan, Papua Nugini termasuk Papua memiliki kemanan yang sangat kurang karena terdapat konflik disana. Lalu dari segi keselamatan perjalanan, negara-negara di Afrika memiliki catatan terburuk karena banyak terjadi kejahatan dan kecelakaan di jalanan.

Selain merilis Travel Risk Map 2019 mereka pun menemukan bahwa hanya 43 persen pelancong bisnis yang memperhatikan risiko perjalanan pada 2019 dan menurun bila dibandingkan pada tahun 2018 dari 52 persen dan 57 persen pada tahun 2017.

Sally Napper, spesialis keamanan di International SOS and Control Risks mengatakan  “Sementara hampir separuh pengambil keputusan percaya bahwa risiko perjalanan akan meningkat tahun depan, penelitian kami mengungkapkan bahwa kebiasaan perjalanan yang berkembang dari tenaga kerja modern sedang diabaikan oleh banyak organisasi. Memastikan kebijakan Anda tetap relevan dengan kebutuhan tenaga kerja modern membantu menjaga orang-orang Anda lebih aman dan mendapat informasi lebih baik, dan juga menunjukkan terus pentingnya program manajemen risiko adaptif - dan dapat membantu memenangkan persetujuan dewan dan dukungan untuk inisiatif lain.”, seperti dikutip dari Dailymail.co.uk.

 

(DA)