Total Remuneration Survey Mercer prediksi kenaikan gaji yang Optimis bagi karyawan Indonesia pada tahun 2019
Friday, 07 December 2018
Total Remuneration Survey Mercer prediksi kenaikan gaji yang Optimis bagi karyawan Indonesia pada tahun 2019

Mercer adalah penyedia solusi serta layanan konsultasi berbasis teknologi untuk membantu organisasi memenuhi kebutuhan seputar kesehatan, kesejahteraan dan karier di era sumber daya manusia yang dinamis. Mercer memperkerjakan lebih dari 23.000 karyawan di 44 negara, perusahaan telah beroprasi di lebih dari 130 negara. Mercer adalah anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Mars & McLennan Companies (NYSE MMC). Perusahaan jasa professional terkemuka di bidang risiko, strategi dan sumber daya manusia. Dengan lebih dari 65.000 mitra bisnis dan lebih dari $14 miliar pendapatan tahunan melalui klien bernavigasi di tengah-tengah lingkungan yang semakin kompleks dan dinamis.     

Jakarta,6 Desember 2018,- Mercer hari ini mengumumkan hasil ‘Compensation Planning 2019’, secara keseluruhan, prediksi kenaikan gaji karyawan indonesaia pada tahun 2019 sebesar 8%, dimana sektor ilmu hayati akan mengalami kenaikan gaji tertinggi yaitu sebesar 8,8%. Karyawan Indonesia menyebut “tidak ada kesempatan untuk berkembang” dan “gaji tidak kompetitif” sebagai alasan utama berhenti dari suatu perusahaan.

Studi tahunan yang mempelajari tren remunerasi serta prediksi perekrutan dan kenaikan gaji karyawan setahun ke depan di Asia, Timur Tengah dan Afrika. Prediksi tersebut dibuat berdasarkan Total Remuneration Survey (TRS) – studi tahunan mercer tentang kompensasi dan gaji, dengan partisipasi 545 perusahaan di Indonesia dari 8 industri tahun ini. Secara keseluruhan, lebih dari 34.800 perusahaan di 130 negara berpartisipasi dalam survey yang mencakup hampir 8.000 pekerjaan lintas industry tersebut, mulai dari level eksekutif sampai para-profesional.

Astrid Suryapranata, Career Business Leader, Mercer Indonesia mengatakan, “Dengan laju inflasi yang kompetitif dan pertumbuhan PDB yang positif di Indonesisa, gaji karyawan di 8 sektor industry penting yang kami pelajari menunjukan kenaikan yang cukup baik. Studi mengungkapkan bahwa ada peningkatan anggaran untuk gaji karyawan sebesar 7,6% pada tahun 2018, dimana sektor pertambangan dan ilmu hayati mencatatkan kenaikan tertinggi, masing-masing sebesar 8,4% dan 8,2%. Sementara itu prediksi kenaikan gaji secara keseluruhan pada tahun 2019 sebesar 8%, di mana sektor ilmu hayati akan mengalami kenaikan tertinggi yaitu sebesar 8,8%. Sebagian besar industry diperkirakan akan mengalami kenaikan gaji pada tahun 2019.

Sama dengan Negara-negara lain di Asia seperti Hong kong, India, Jepang, Malaysia, Filiphina, Singapura, Korea Selatan, Thailand dan Vietnam, karyawan di Indonesia menyebut “tidak ada jejak karier yang jelas dan kesempatan untuk berkembang” dan “gaji yang Kompetitif” sebagai dua alasan utama berhenti dari suatu perusahaan. Namun rupanya tidak banyak karyawan  yang menyebut “jam kerja yang panjang, lembur, dan jam kerja yang fleksibel” atau “jarak yang jauh dan/ atau waktu perjalanan yang lama menuju tempat kerja” sebagai alasan.

Prediksi kenaikan gaji secara keseluruhan mencerminkan kepercayaan perusahaan-perusahaan yang beroprasi di Indonesia menghadapi tahun 2019, di mana 80% perusahaan bergantung kepada kinerja perusahaan sebagai faktor penentu kenaikan gaji. Meski demikian, kinerja karyawan akan tetap menjadi faktor penentu menurut 96% perusahaan, diikuti oleh posisi karyawan menurut 77% perusahaan. Faktor ketiga tersebut lebih menentukan kenaikan gaji karyawan daripada faktor inflansi. Hal ini menunjukan bahwa perusahaan telah menyadari struktur dan skala upah yang diatur dalam Peraturan Mentri.

Dengan latar belakang perekonomian yang kuat dan kenaikan gaji riil (dihitung berdasarkan kenaikan gaji dikurangi inflasi) di negara-negara berkembang, kenaikan gaji tertinggi pada tahun 2019 diperdiksi terjadi di Bangladesh sebesar 10%, India sebesar 9,2%, dan Vietnam sebesar 9,8%. Sementara itu Australia diprediksi mengalami kenaikan gaji sebesar 2,6%, Selandia Baru sebesar 2,5%, dan yang terendah Jepang sebesar 2%.