Mortal Engines: Invasi untuk Bertahan Hidup
Thursday, 06 December 2018
Mortal Engines: Invasi untuk Bertahan Hidup

Rasanya sulit untuk melewatkan film ini jika melihat nama Peter Jackson berada di jajaran produser sekaligus penulis screenplay dalam Mortal Engines. Diadaptasi dari novel Phillip Reeve dengan judul yang sama, Mortal Engines mengambil tema post-apocalyptic, di mana keadaan bumi sudah tidak layak tinggal karena ulah manusia dengan senjata perangnya, dan kurangnya sumber daya alam seperti makanan dan air bersih untuk mencukupi kebutuhan setiap orang. Kondisi ini memaksa tiap negara untuk melakukan invasi ke negara lain dengan tujuan mengambil sumber daya mereka untuk keberlangsungan hidup.

Dengan keadaan bumi yang tidak layak tinggal, semua orang tetap dengan tujuan hidupnya yaitu bertahan hidup dengan kondisi tersebut. Namun lain halnya dengan Hester Shaw (Hera Hilmar) yang tujuan hidupnya hanya satu, yaitu balas dendam untuk membunuh Thaddeus Valentine (Hugo Weaving), salah satu pejabat di London, atas kejadian masa lalu yang masih tidak dapat dilupakan.

Dalam film ini, London merupakan negara adidaya yang selalu memburu kota kecil untuk memperoleh sumber daya. Dan pertemuan antara Hester dan Valentine bermula saat London menyerang salah satu kota di mana Hester adalah salah satu warga di situ. Yang menjadi unik dari Mortal Engines adalah, kota atau negara tersebut mempunyai roda besar sehingga kota atau negara tersebut dapat bergerak untuk menyerang kota lainnya. Kota tersebut akhirnya takluk dan terhisap ke dalam London bersama dengan Hester. Hester tinggal selangkah lagi untuk membunuh Valentine namun digagalkan oleh Tom Natsworthy (Robert Sheehan) yang melihat dari kejauhan.

Namun takdir sepertinya menyatukan Tom dan Hester. Hester yang gagal membunuh Valentine langsung dikejar oleh banyak aparat, termasuk Tom. Hester berhasil melarikan diri, dan Tom dibuang oleh Valentine karena mengucapkan sesuatu yang membuatnya kesal. Akhirnya mereka, bersama dengan Anna Fang (Jihae), seorang kriminil yang kepalanya dihargai tinggi, berusaha mencegah niat Valentine untuk mengaktifkan senjata rahasia yang membahayakan umat manusia.

Seperti film tema post-apocalyptic pada umumnya, saling menindas untuk  memperebutkan sumber energi yang semakin sedikit merupakan hal lumrah dan juga sifat alamiah manusia untuk bertahan hidup. Namun Mortal Engines menggambarkan bahwa manusia pada zaman tersebut sudah beradaptasi dan terbiasa dengan pola hidup dan lingkungan yang sulit dan tidak mengenakan untuk ditinggali. Tak ada kejahatan seperti pencurian karena banyak aparat yang diturunkan ke jalan. Lagipula akan sulit untuk kabur karena kota atau negara tersebut berjalan di atas roda besar dan wilayah yang tidaklah luas untuk sekedar bersembunyi.

Tokoh Hester ditampilkan sebagai seorang yang tanpa ampun jika dilihat dari tatapan matanya. Kondisi lingkungan memaksa ia untuk merubah pola pikir dan hidupnya. Bahkan ia meminum air becekan layaknya air bersih dan memakan roti yang sudah berumur ratusan tahun dengan lahap. Begitupun dengan sikapnya terhadap Tom yang selalu baik namun tak dianggap.

Berbagai rintangan menerjang perjalanan Tom dan Hester hingga akhirnya bertemu dengan Anna Fang yang kemunculannya sudah saya nantikan. Bagaimana perjuangan mereka bertiga menghentikan ambisi gila Valentine dengan mesin pembunuhnya?

Temukan jawabannya dalam latar dunia masa depan yang gambarnya diambil di Selandia Baru, sama ketika Peter Jackson menghadirkan Middle Earth dari novel karya J.R.R. Tolkien, The Lord of The Rings dan berbagai serinya. 

Dengan konsep kota-kota futuristik di atas roda yang melahap satu sama lain, Mortal Engines menyajikan narasi emosional seputar cinta, kasih sayang, balas dendam, dan kebebasan. "Anda selalu mencari cerita dengan manusia. Mortal Engines memilikinya," kata Jackson.

 

Genre: Action, Adventure, Sci-fi

Sutradara: Christian Rivers (King Kong vfx)

Cast: Hera Hilmar, Robert Sheehan, Hugo Weaving, Jihae

Distributor: United International Pictures Indonesia

Durasi: 2 jam

Mulai tayang di bioskop Indonesia: 5 Desember 2018

(JOS)