Merasa Ditarget, Dahnil Beberkan Pertemuan Bersama Menpora dan Yaqut
Monday, 26 November 2018
Merasa Ditarget, Dahnil Beberkan Pertemuan Bersama Menpora dan Yaqut

JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan munculnya persoalan uang Rp2 miliar. Menurutnya, uang tersebut berawal dari ajakan kerja sama dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi untuk menggelar acara apel pemuda Islam Indonesia pada 16-17 Desember 2017.

Pertemuan untuk membicarakan kegiatan tersebut dilaksanakan di rumah dinas Imam Nahrawi pada Semptember 2017 yang dihadiri Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Pada kesempatan itu Nahrawi menyampaikan keresahannya dengan kelompok radikal yang mengaku paling Islam.

"Ketika tiba di rumah dinas Menpora ternyata telah hadir Gus Yaqut (Yaqut Cholil Qoumas), Ketua Umum GP Ansor. Akhirnya, kami dipertemukan oleh Menpora. Singkat cerita akhirnya kami berdiskusi," ujar Dahnil dalam keterangannya, Minggu (25/11/2018)

Dia menuturkan, Nahrawi khawatir munculnya kelompok yang dinilai radikal bisa menyebabkan konflik horizontal. Selain itu, PP Muhammadiyah dan GP Ansor dianggap sebagai dua organisasi kepemudaan Islam besar di Indonesia yang terlihat tidak kompak dan sering berseberangan.

Maka itu Nahrawi menginisiasi dua organisiasi pemuda Islam pada acara tersebut. "Oleh sebab itu, untuk menurunkan eskalasi panas dengan berbagai isu yang berpotensi memecah belah, Menpora mengajak Pemuda Muhammadiyah dan GP Ansor menggelar kegiatan bersama Apel Kokam dan Banser," tuturnya.

Namun, Dahnil tidak langsung mengiyakan ajakan Nahrawi karena harus membicarakan terlebih dahulu dalam forum internalnya dan berkonsultasi dengan PP Muhammadiyah. Setelah melalui beberapa pertimbangan serta mengingat betapa pentingnya Pemuda Muhammadiyah membantu pemerintah untuk mencegah potensi konflik horizontal, maka pihaknya menerima ajakan Menpora tersebut.

"Saya menyampaikan permintaan persetujuan dan restu mewakili PP Pemuda Muhammadiyah yang saat itu langsung di rapat pleno Muhammadiyah yang dihadiri seluruh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah termasuk Pak Haedar Nashir dan Pak Busyro Muqoddas," ucapnya.

Dia menambahkan, Pemuda Muhammadiyah kemudian menunjuk Ahmad Fanani dan beberapa orang lainnya yang masih berusia di bawah 30 tahun untuk menindaklanjuti secara teknis kebijakan ajakan Kemenpora. "Sedangkan saya dan kawan-kawan Pemuda Muhammadiyah yang sudah berusia di atas 30 tahun tidak bisa terlibat," katanya.

Saat menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya beberapa waktu lalu menyangkut dugaan tanda tangannya yang merupakan hasil scan yang terpapar di Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ), dirinya mengakui tidak mengetahui perihal persoalan tersebut.

"Saya seolah menjadi target utama dengan alasan ada tandatangan hasil scan, yang menyatakan saya  mengetahui, padahal sejatinya saya tidak memahami dan tidak tahu," tandasnya.

 

Source: inews