Rawan Kecelakaan, Separator Busway Tetap Jadi Andalan Transjakarta
Thursday, 11 October 2018
Rawan Kecelakaan, Separator Busway Tetap Jadi Andalan Transjakarta

Pada Selasa, 9 Oktober 2018 kemarin pun armada bus Mayasari 18129 koridor I (Blok M-kota) menyenggol separator di Jalan Sudirman sekitar pukul 14.47 WIB. Sebelumnya, pada Minggu, 7 Oktober 2018, kendaaran jenis sedan juga menabrak seprator bus di kawasan permata hijau.

Humas PT Transjakarta, Wibowo mengakui masih banyak kecelakaan kendaraan menabrak separator. Evaluasi pun terus dilakukan dan bahkan tidak hanya ketika terjadi insiden.

Namun, hinga saat ini separator setinggi 60 cm masih menjadi salah satu cara untuk mensterilisasikan jalur dari kendaraan pribadi selain pemasangan portal dibantu petugas yang berjaga. "Dalam standar pelayanan minimum (SPM) memang diatur agar jalur Transjakarta steril. Untuk bisa patuhi aturan itu, dipasang separator, portal dan petugas yang berjaga," kata Wibowo dalam keterangan singkatnya pada Rabu, 10 Oktober 2018 kemarin.

Plt Kepala Dinas perhubungan DKI Jakarta, Sigit Widjiatmoko menjelaskan, sterilisasi jalur merupakan salah satu langkah pendukung untuk mencapai SPM. Dimana, batas headway maksimal tujuh menit. Sayangnya, operasional bus Transjakarta belum mencapai headway tersebut lantaran jalur belum steril.

Sigit telah meminta pihak kepolisian agar menjaga jalur bus khususnya koridor I dari kendaraan pribadi. Dia tidak ingin ada diskresi-diskresi yang selama ini menjadi alasan polisi membiarkan kendaraan pribadi melintas di jalur bus TransJakarta. "Jalur yang mix dengan kendaraan pribadi akibat tidak ada separator akan kami pasang kembali," ungkapnya.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), Iskandar Abu Bakar meminta agar PT Transjakarta mengubah pola operasional bus untuk mensterilisasikan jalur bus Transjakarta. Sebab, separator setinggi 60 cm, sangat rawan kecelakaan dan mengurangi kapasita ruas jalan.

source :sindonews