Pasca-Gempa dan Tsunami, 6 Fokus Kesehatan Jadi Sasaran Kemenkes
Monday, 08 October 2018
Pasca-Gempa dan Tsunami, 6 Fokus Kesehatan Jadi Sasaran Kemenkes

PASCA-gempa dan tsunami melanda Kota Palu, Sigi dan Donggala, pelayanan kesehatan yang lumpuh pun mulai membaik . Pemerintah pun mulai fokus memperbaiki mulai dari faktor gizi, sanitasi hingga pembenahan pelayanan kesehatan.

 

Oleh karena itu, pengungsi diharapkan tidak khawatir akan kekurangan bahan pangan, sanitasi buruk serta bantuan tenaga dokter bila membutuhkannya. Kementerian Kesehatan RI juga sudah mempersiapkan banyak sub klaster kesehatan yang dibutuhkan untuk menyambung hidup pasca-bencana.

 

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dr Achmad Yurianto, membeberkan enam fokus kesehatan yang mulai dilaksanakan. Simak lebih lanjut penjabarannya lewat rangkuman berikut yang ditulis Okezone, Senin (8/10/2018).

 

Pengawasan gizi

 

Bagi bayi dan balita penyintas Gempa Bumi Palu tidak perlu khawatir kekurangan makanan sehat. Pemerintah telah menyediakan bahan makanannya yang dibutuhkan. Seperti bahan makanan seperti sayuran, daging, ikan, buah, serta sumber karbohidrat yang sehat mulai didistribusikan.

 

Semua bahan disediakan di dapur umum setiap lokasi pengungsian. Selain itu, kaum ibu penyintas bencana itu pun dilatih untuk memasak MPASI yang tepat, seperti nasi tim, bubur sayur, nasi dengan lauk pauk, ditambah konsumsi buah-buahan segar.

 

Pelayanan ibu hamil

 

Yuri mengatakan, di beberapa lokasi pengungsian, pelayanan untuk ibu hamil yang melahirkan serta masa nifas sudah lancar, Meski banyak bidan di lokasi bencana belum aktif, namun banyak relawan bidan dari daerah lainnya membantu.

 

"Sistem pelayanannya per blok, tapi pindah-pindah. Misalnya, di satu lokasi, relawan sudah membantu nanti akan pindah ke lokasi lainnya," kata Yuri, saat dihubungi Okezone, Senin (8/10/2018).

 

Penyemprotan desinfektan

 

Yuri menambahkan, berhari-hari di sela pencarian korban selamat dan jenazah, timbul bau busuk kemudian menjadi sumber cemaran kesehatan. Apalagi tidak hanya rumah sakit yang menjadi tempat transit jenazah saat ditemukan.

 

"Kami akan semprot desinfektan tumpukan sampah dan lokasi bekas temuan jenazah agar tidak menularkan penyakit infeksi," beber Yuri.

 

Pengawasan sanitasi dan sumber air bersih

 

Pasca-bencana, pemerintah juga melakukan pengawasan terhadap sanitasi dan sumber air bersih. Bakal dilakukan uji lab untuk mengetahui kualitas dari sumber air sumur dangkal oleh Dinas Kesehatan.

 

"Kita tidak ingin adanya kejadian luar biasa dari penyakit yang mencemari. Water purifier sudah ada tinggal dipasang di lokasi pengungsian," tuturnya.

 

Aktifkan pelayanan kesehatan

 

Yuri menyebutkan, puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan harus segera diaktifkan. Puskesmas belum aktif, karena tenaga kesehatannya tidak ada.

 

"Kami maklumi karena sumber daya manusia ini bagian dari korban. Evaluasi keseluruhan sub kluster kesehatan untuk tentukan tindak lanjut dilakukan sampai seminggu ke depan," ucap dia.

 

Trauma healing

 

Penyintas bencana di sebagian wilayah Sulawesi Tengah itu sangat membutuhkan trauma healing. Kesehatan jiwanya dikhawatirkan bisa terganggu, apalagi kaum perempuan dan anak.

 

Sayangnya, menurut Yuri, belum ada tim khusus yang membantu penyintas gempa. Apalagi saat ini masih banyak korban hilang yang belum ditemukan.

 

"Saat ini tergolong masa-masa sulit, malahan di posko pencarian orang hilang itu masih banyak yang mencari korban. Jadi, tim (trauma healing) belum jalan langsung karena kita belum bisa organisir pengungsi," tutupnya.

 

Source : okezone.com