Peringati Hari Kontrasepsi Dunia, BKKBN Ungkap 3 Masalah Kependudukan
Monday, 08 October 2018
Peringati Hari Kontrasepsi Dunia, BKKBN Ungkap 3 Masalah Kependudukan

JAKARTA, iNews.id - Demi memperingati Hari Kontrasepsi Dunia atau World Contraception Day, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar Temu Ilmiah bertema 'Kesehatan Reproduksi untuk Keluarga Terencana Menuju Indonesia Sejahtera' di Auditorium BKKBN, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (8/10/2018). Apa yang dibahas?

 

Pada kegiatan tersebut, Plt Kepala BKKBN Sigit Priohutomo menekankan lagi betapa pentingnya perencanaan keluarga demi kesejahteraan keluarga dan negara. Hal ini mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, yakni lebih dari 250 juta jiwa dan menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor empat.

 

"Di dalam masalah kependudukan, ada tiga hal yang selalu diperhatikan. Bukan cuma kuantitas, tapi juga kualitas (SDM). Dengan jumlah anak yang cukup itulah, menyebabkan kualitas itu tadi," kata Plt Kepala BKKBN Sigit Priohutomo di Kantor BKKBN, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (8/10/2018).

 

Kualitas tersebut, kata dia, dapat terbentuk beriringan dengan tingkat fokus orangtua pada anak. Misalnya, meliputi kasih sayang, perhatian, hingga hal-hal seperti pendidikan. Selain menyinggung korelasi kuantitas dan kualitas, Sigit juga menyinggung soal mobilitas yang juga menjadi hal ketiga perlu diperhatikan untuk mengatasi masalah kependudukan.

 

Sigit menerangkan, salah satu faktor yang menyebabkan angka kelahiran di Indonesia cukup tinggi saat ini adalah tingginya angka kelahiran ibu di usia anak. Artinya, banyaknya ibu yang melahirkan di bawah usia 21 tahun.

 

Menurut hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, angka kelahiran total (TFR) secara nasional kini 2,4 anak per perempuan usia reproduksi. Meskipun angka ini menurun dari SDKI 2012, yakni 2,6 anak per perempuan usia reproduksi, tetapi angka tersebut belum mencapai sasaran yaitu di angka 2,33.

 

Namun di sisi lain, jelas dia, angka penggunaan kontrasepsi telah mengalami peningkatan dari 61,9 persen menjadi 63,6 persen pada Laporan SDKI 2017. "Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan pengetahuan dan wawasan bagi stakeholder, provider medis, mitra kerja, dan masyarakat terkait pelayanan KB dan kesehatan reproduksi," katanya.

 

Hari Kontrasepsi Dunia diperingati setiap 26 September sejak 2007. Tujuan peringatan ini untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang penggunaan metode kontrasepsi yang tersedia. Selain itu, memungkinkan masyarakat membuat pilihan untuk ber-KB berdasarkan informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi.

 

Source : iNews.id