Berawal Dari Dendam, Jos Oren Seorang Jongos Berubah Menjadi Bos
Sunday, 09 September 2018
Berawal Dari Dendam, Jos Oren Seorang Jongos Berubah Menjadi Bos

JAKARTA – Mencintai pekerjaan, terus belajar dan mencari ilmu, pantang menyerah, berikan pelayanan. Itulah kata kunci untuk meraih sukses seorang Yosep Te Victoria, atau yang akrab dipanggil Jos Oren. 

Menurut Jos, jika mencintai pekerjaan, akan memberikan kepuasan batin. Jangan jalani pekerjaan atau usaha jika Anda tidak sungguh-sungguh mencintai. Hal yang penting lainnya adalah jangan mencari uang. Carilah ilmu, maka uang akan mencari Anda.

Memang mudah diucapkan tetapi perlu perjuangan yang ekstra keras untuk berhasil dalam bisnis dan sukses dalam kehidupan. Namun, baginya semua itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, terus belajar dan tidak malu mencari ilmu.

Jos Oren terobsesi untuk meraih sukses karena dendam. Saat anak pertamanya Clara lahir, hanya untuk membeli susu formula saja ia kesulitan. Bahkan harus rela dititipkan ke mertua. “Sejak saat itu saya dendam. Dendam dengan arti positif. Ingin hidup anak saya lebih baik dan minimal setara dengan keluarga istri saya,” ujarnya.

Menurutnya, dendam tersebut membuatnya terus berpikir dan bekerja meraih sukses dari pekerjaan yang kecil menjadi office boy. Energy negative menjadi positif berkat kemauan yang sangat kuat melekat di dirinya.

“Saya mulai dari kecil. Apapun yang bisa dikerjakan, dikerjakan dengan baik. Saya tidak pernah cari uang tapi cari ilmu. Bahkan saya curi-curi waktu untuk belajar editing gambar di ANTV,” tambahnya.

Iapun bangga bangga disebut Jongos selalu melayani. "Saya itu dulu jongos karena bekerja sebagai office boy di ANTV. Kini juga masih jongos untuk memberikan pelayanan kepada mitra usaha dan jongos bagi keluarga," ujar Jos saat peluncuran buku I'm Jongos di STBA LIA, Sabtu (08/09/2018).

Dari Jongos menjadi Bos. Mungkin itu yang tepat bagi Jos.  Dia kini mampu menjadi entrepreneur sukses yang memiliki lima perusahaan. Bahkan nilai perusahaannya mencapai belasan miliar rupiah.

Ia menjelaskan, bisnis pertamanya adalah Numedia yang merupakan perusahaan yang bergerak pada layanan digital signage untuk media luar ruang. Misalnya, layanan yang diberikan kepada Indomaret.

Kedua, Go Line, yakni aplikasi berbasis sistem antrean online. Misalnya, untuk diaplikasikan di rumah sakit. Ketiga, Numyseed Academy, yaitu kampus yang bergerak di bidang perhotelan dan pelayanan yang berlokasi di Cianjur, Jawa Barat. Keempat,  Numotion, yang merupakan perusahaan yang bergerak di production house sekaligus graphic house. Kelima, Kamubisa.com, yang merupakan Web TV Channel yang menayangkan berbagai video tutorial.

Siapa sangka, titik balik pria berambut gimbal itu justru saat ia berprofesi sebagai seorang office boy. Tepat di tahun 1996, Jos memang memilih merantau ke Jakarta dengan bermodal ijazah SMA. “Pertama kali di Jakarta, saya memang menjadi seorang salesman buku. Tapi itu tak lama, karena saya tidak berhasil menjadi seorang salesman. Setelah itu, saya menjadi office boy di ANTV,” ungkapnya.

Ada cerita menarik, sekaligus memilukan. Dia harus bisa bertahan hidup dengan hanya Rp3.000 per hari dari uang operasional sewaktu menjadi salesman buku. Dia pun sering menyamar sebagai mahasiswa agar bisa naik angkot dengan tarif Rp1.000. Dia pun tidak berani makan di rumah makan Padang.

Dia pun kaget ketika melamar di ANTV ternyata gedungnya tinggi. "Ini sekali-kali saya masuk gedung tinggi. Saya pun bertanya kepada orang kalau mau ke lantai 7 caranya bagaimana," ungkapnya.

Hanya bertahan 9 bulan di stasiun TV swasta itu, Jos kemudian diajak bos MTV Indonesia, Daniel Tumiwa, untuk bergabung. “Tetapi, profesi saya masih sama, sebagai office boy. Tidak ada kontrak kerja tetapi di MTV Indonesia bisa belajar apa saja, saya justru banyak menimba ilmu. Bahkan, Mas Daniel, menjadi guru saya yang selalu mengajari saya untuk terus berinovasi, termasuk mengajari saya tentang ilmu pemasaran,” ujar pria yang kemudian memilih bergabung di Vertigo, rumah produksi di mana salah satu pendirinya adalah Daniel Tumiwa.

Selepas dari Vertigo, suami dari Maria itu, memutuskan untuk membangun bisnis Numedia. Dari sana, Jos terus mengembangkan sayap bisnisnya. Kini, ada lima perusahaan yang telah dibangun Jos.

Menurutnya, kunci keberhasilannya dalam membangun bisnis adalah filosofi melayani. Mulai dari melayani atasan dan pegawai di kantor ketika ia masih berprofesi sebagai office boy, hingga melayani karyawan, keluarga karyawan, dan klien ketika ia sudah menjadi pemimpin sekaligus pengusaha. Termasuk, melayani keluarganya di rumah.

Filosofi melayani itulah yang kemudian ia wujudkan dengan meluncurkan sebuah buku berjudul “I’M Jongos”.

“Dua tahun lalu, teman-teman saya mendorong saya untuk membuat buku atau film terkait kisah hidup saya. Tapi, saya tidak begitu yakin. Selanjutnya, dua bulan lalu, ketika mantan bos saya, Mas Daniel, berkunjung, dia meyakinkan saya untuk membuat buku. Alasannya, buku tersebut dapat menginspirasi mereka yang membaca,” ujarnya.

Akhirnya, dengan tujuan menginspirasi, Jos pun meluncurkan buku “I’M Jongos” pada pekan kedua September 2018 di Jakarta. Ia menegaskan, “Kata Jongos bermakna ganda, yakni seorang pelayan karena saya memang berawal dari office boy serta filosofi melayani. Artinya, dari dulu hingga sekarang, saya masih melayani. Konsep melayani yang saya usung tidak hanya berhenti pada karyawan, keluarga, dan klien. Saya juga ingin melayani anak-anak yang ‘diyatim-piatukan’ oleh keadaan. Sebab, saya merasakan bagaimana hidup di tengah kekurangan. Mulai dari angon kerbau, tukang ojek, salesman buku, hingga office boy,” ia mengisahkan.

Jos bertekad untuk mendirikan “Rumah Pintar”, yakni sejenis panti penampungan untuk anak-anak yatim piatu dan fakir miskin. “Di Rumah Pintar, mereka akan diajarkan untuk menjadi seorang entrepreneur. Misalnya, mulai dari diedukasi berkebun, beternak, memiliki keterampilan terkait bengkel, hingga multimedia. Di sana, mereka juga akan ditumbuhkan mental pemberi serta mengikis habis mental peminta,” tuturnya.

Baginya, parameter sukses tidak semata diukur dari seberapa besar ia mampu membangun bisnis. “Sukses adalah ketika saya mampu membuat orang lain senang, bahagia, dan tertawa. Selain filosofi melayani, saya juga meyakini bahwa dalam hidup, saya tidak mencari uang. Melainkan, mencari ilmu. Ketika ilmu didapat, maka uang akan datang dengan sendirinya,” tegas Jos.

Di mata Daniel, Jos adalah sosok  entrepreneur yang mampu menginspirasi semua orang. "Jos selalu menjalani dengan sungguh-sungguh setiap pekerjaannya.  Ketika tertarik dengan peralatan shooting, dia yakin ke depannya akan memiliki banyak alat untuk memproduksi film. Ketika dia belajar ilmu manajemen dan pemasaran, dia yakin akan memimpin banyak orang ke depannya. Dan, semuanya berhasil  terwujud," ungkapnya.

Salah satu prinsip lainnya yang dipegang Jos adalah mengganggap anak buah sebagai teman waktu di luar kantor. Sebaliknya, bekerja profesional ketika berada di kantor.

Perjalanan hidup Jos Oren, mulai sejak kecil hingga meraih sukses, dituangkan dalam sebuah buku I’M Jongos. Buku yang diluncurkan tepat saat ia berusia 40 tahun itu, diharapkan buku tersebut bisa menginspirasi generasi muda dengan kemajuan teknologi saat ini.

“Hidup adalah drama. Menjadi pemain, sutradara yang mengatur hidupnya. Yang menentukan kita sendiri. Nasib berasal dari diri sendiri,”katanya. (ANP)